Berdasarkan hasil riset BAZNAS bekerjasama dengan IPB dan IDB, potensi zakat secara Sumatera Selatan sebesar Rp. 2.385.588.618.814,96. Sedangkan potensi zakat secara Nasional adalah sebesar Rp. 82.793.348.705.971,50. Adapun praktik pengumpulan dan pendistribusiannya di zaman Rasulullah, zakat yang terkumpul di Yaman, tidak dibawa ke Madinah.

Demikian perintah Nabi kepada Mu’az bin Jabal. Artinya zakat yang terkumpul di Sumatera Selatan tidak dibawa ke Jakarta untuk dibagi rata keseluruh daerah. Zakat itu berlaku kewilayahan. “Tuk khodzu min aghniyaaihim faturaddu fi fuqoroihim”.

Karena itulah dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat wilayah terkecil penghimpunan dan penyaluran zakat adalah wilayah Kabupaten/Kota. Untuk mengkoordinir perzakatan secara nasional dalam rangka mewujudkan tujuan pengelolaan zakat sesuai dengan amanat undang-undang maka ada BAZNAS Pusat dan ada BAZNAS Provinsi.

Potensi zakat di Sumatera Selatan sebesar itu terdiri atas zakat fitrah dan zakat mal (harta). Zakat fitrah berkaitan dengan ibadah puasa Ramadhan yang ditunaikan di bulan Ramadhan atau tepatnya di akhir Ramadhan, sedangkan pembayaran zakat mal tergantung dengan nishab (batas minimal harta yang kena zakat) dan haul (sampai masa satu tahun) bagi harta yang disyaratkan berlaku haul.

Berdasarkan undang-undang Pemerintah membentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan untuk membantu BAZNAS diperkenankan masyarakat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZNAS Pusat berkedudukan di Ibu Kota Negara, BAZNAS Provinsi berkedudukan di Ibu Kota Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/ Kota berkedudukan di Ibu Kota Kabupaten/Kota.

Lembaga BAZNAS ini merupakan Lembaga Pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama. BAZNAS merupakan Lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara Nasional mulai dari pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

Mengelola zakat, infak dan shodaqoh adalah mengelola uang umat sesuai dengan peruntukkannya maka Undang-Undang Pengelolaan Zakat ini mengamanatkan agar zakat itu dikelola sesuai dengan syariat Islam, amanah (pengelola zakat harus dapat di percaya), penuh kemanfaatan bagi orang yang menerima zakat (mustahik), pendistribusiannya dilakukan secara adil, dalam pengelolaan zakat harus terdapat jaminan kepastian hukum bagi mustahik dan muzakki (orang yang berzakat), terintegrasi dimana pengelolaan zakat dilaksanakan secara hierarkis dalam upaya meningkatkan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat, dan yang terkahir pengelolaan zakat daapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas).

Zakat disalurkan melalui amil. Mengapa mesti lewat amil BAZNAS. Satu-satunya ibadah yang ada pekerjaannya adalah zakat. Pertama, untuk menjamin kepastian dan disiplin pembayar zakat. Kedua, untuk menjaga perasaan rendah diri para mustahik zakat apabila berhadapan langsung untuk menerima zadari para muzakki.

Ketiga, untuk mencapai efisien dan efektivitas, serta sasaran yang tepat dalam penggunaan harta zakat menurut skala prioritas yang ada pada suatu tempat. Keempat, untuk memperlihatkan syiar Islam dalam semangat penyelenggaraan pemerintahan yang Islami. Kelima, sesuai dengan syar’i seperti yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat.

Rasulullah SAW pernah memperkerjakan seseorang pemuda dari bani Asad yang bernama Ibnu Luthaibah untuk mengurus zakat Bani Sulaim. Pernah pula mengutus Ali bin Abi Thalib ke Yaman untuk menjadi amil Zakat. Muadz bin Jabal pernah diutus Rasulullah SAW pergi ke Yaman, disamping bertugas sebagai da’i (menjelaskan ajaran Islam secara umum), juga mempunyai tugas khusus menjadi amil zakat.

5595

Hak Cipta © 2017 BAZNAS SUMSEL
Design By IT BAZNAS Sumsel